Sudut Bahasa Imbuhan Ambigu Definisi Lengkap dan Contoh

Imbuhan Ambigu (pe-, per, dan pe-an)
Imbuhan pe-, per-, pe-an dalam bentukan kata sering menimbulkan ambigu
karena pembentukan kedua imbuhan tersebut ada yang sama, yakni keduaduanya
dapat menjadi pe- (perwujudan dari per- dan pe-)
Contoh:
1. pelari berasal dari kata dasar lari dan imbuhan per-
2. pelicin berasal dari kata dasar licin dan imbuhan pe- atau pe (N)
Sekilas bentukan kata di atas berimbuhan sama tetapi ternyata tidak. Untuk
menghindari keambiguan tersebut, kamu harus tahu terlebih dahulu pembentuk
kedua imbuhan tersebut.
Bentuk variasi perwujudan imbuhan tersebut disebut alomorf (variasi bentuk).
Alomorf imbuhan pe- atau pe (N) adalah pem-, pen-, peny-, dan pe-. Imbuhan
tersebut bertalian dengan kata kerja me-, sedang imbuhan per- mempunyai
alomorf pe-, pel-, dan per- yang mempunyai pertalian dengan kata kerja ber- atau
di-.

Berbagai Contoh Kalimat Ambigu & Definisi Lengkap – Kalimat ambigu adalah kalimat yang multitafsir. Dengan kata lain, kalimat ambigu memiliki makna lebih dari satu atau makna ganda. Diperlukan analisis dan pemahaman terhadap konteks yang dibicarakan atau pesan yang disampaikan oleh pembicara tentang makna kalimat tersebut.

Berbagai Contoh Kalimat Ambigu & Definisi LengkapBerbagai Contoh Kalimat Ambigu & Definisi LengkapB. INDONESIA, DEFINISI, KALIMAT ON OCTOBER 16, 2015 NO COMMENTS

Berbagai Contoh Kalimat Ambigu & Definisi Lengkap – Kalimat ambigu adalah kalimat yang multitafsir. Dengan kata lain, kalimat ambigu memiliki makna lebih dari satu atau makna ganda. Diperlukan analisis dan pemahaman terhadap konteks yang dibicarakan atau pesan yang disampaikan oleh pembicara tentang makna kalimat tersebut.



Jenis kalimat ambigu, yaitu:

1. Ambiguitas Fonetik
Ambiguitas fonetik adalah jenis keambiguan kalimat yang terjadi karena adanya kesamaan bunyi yang diucapkan.

Contoh:

Santika pergi dari rumah tanpa memberi tahu.

Keambiguan kalimat di atas menimbulkan pertanyaan:

1. Apakah Santi pergi tanpa memberi tahu (makanan yang terbat dari kedelai) terlebih dahulu?
2. Apakah Santi pergi dari rumah tanpa pamit?

Untuk memahami makna sebenarnya dari kalimat tersebut, kita perlu cermat memahami keseluruhan pembicaraan.

2. Ambiguitas Gramatikal
Ambiguitas gramatikal terberuk karena adanya pembentukan tata bahasa dalam kata, frase, dan kalimat. Keambiguan jenis ini dalam suatu kata atau frase akan hilang apabila kata/frase tersebt dimasukkan ke dalam konteks kalimat tertentu.

Baca Juga:  Klasifikasi Kelompok Sosial Lengkap
Contoh:

Orang tua

Kata tersebut memiliki dua makna yaitu ibu dan bapak atau orang yang sudah tua. Oleh sebab itu untuk mengetahui makna yang sebenarnya perlu disatukan ke dalam satu kalimat.

      Hasil gambar untuk ambigu

a. Randi tidak mengajak orang tuanya makan bersama calon istrinya.
b. Randi mengantar orang tua yang ia temui di jalan ke rumah sakit.

Contoh Kalimat Ambigu
1. Prisil membeli buku seni puisi baru.

Kalimat tersebut menimbulkan pertanyaan apakah yang maksud adalah buku seni puisi itu baru atau buku tentang seni puisi baru.

Seharusnya kita menuliskan kalimat di atas seperti di bawah ini untuk menghindari adanya keambiguan:

Prisil membeli buku-seni-puisi baru. (Jika bukunya baru)
Prisil membeli buku seni-puisi baru. (Jika seni puisinya baru)
Prisil membeli buku seni puisi yang baru. (Jika puisinya yang baru)

2. Tina tampil cantik dalam panggung sandiwara kehidupan.

Kalimat di atas tidak memiliki makna yang jelas, apakah ia tampil dalam panggung pementasan teater atau kalimat tersebut bermakna konotasi bahwa panggung kehidupan adalah kehidupan nyata.

Untuk menghindari keambiguan pada kalimat tersebut, seharusnya di tulis seperti ini:

Tina tampil cantik dalam panggung Sandiwara Kehidupan. (Jika yang dimaksud adalah pementasan drama.)
Tina tampil cantik dalam panggung sandiwara kehidupan. (Jika yang di maksud panggung adalah makna konotasi.)

3. Pijar tidak mendapat uang karena tidak memberi tahu.

Kalimat di atas menimbulkan pertanyaan apakah Pijar tidak mendapat uang karenaa tidak memberi tahu (sejenis makanan dari kedelai) atau Pijak tidak mendapat uang karena tidak memberi informasi.

Agar tidak menimbulkan makna ganda atau keambiguan dalam kalimat tersebut, seharusnya kalimat tersesbut ditulis seperti ini:

Baca Juga:  33 Contoh Kalimat Konjungsi Subordinatif, Ciri, & Pengertian
Pijar tidak mendapatkan uang karena tidak memberi tahu kabar terbaru. (Pijar tidak memberi informasi terbaru)
Pijar tidak mendapatkan uang karena tidak memberi tahu jeletot. (Pijar tidak memberi tahu jeletot –sejenis makanan tahu dengan isi pedas).

4. Hiziya mengatakan bahwa mulut Hijika pedas.

Kalimat di atas menimbulkan makna mutitafsir. Keambiguan kalimat tersebut terletak pada mulut Hijika sedang merasakan pedas setelah makan/minum sesuatu, atau Hijika suka bicara dengan kata-kata yang sinis sehingga makna kata mulut pedas adalah makna konotasi.

Untuk menghindari keambiguan tersebut, kita bias menuliskan kalimat di atas menjadi:

a. Hiziya mengatakan bahwa mulut Hijika pedas setelah makan sambal. (mulut pedas karena makan sesuatu)
b. Hiziya mengatakan bahwa mulut Hijika pedas. (mulut pedas bermakna konotasi yaitu suka bicara sinis dan tidak ramah)
Previous
Next Post »
Post a Comment
Thanks for your comment